ISO DSLR

Waktu Publish: Thu, 25 February 2010
Baik, saya akan coba lanjutkan langkah ketiga untuk menguasai DSLR. Setelah menguasai Shutter Speed dan Diafragma atau aperture, maka selanjutnya anda harus mengetahui ISO dan kemudian menguasainya. Saat ini rata-rata kamera DSLR memiliki ISO mulai dari 80 ? 3200. Nah, ISO ini juga yang merupakan kelebihan teknologi DSLR dibandingkan dengan teknologi SLR sebelumnya, dimana ISO ini menggantikan ASA yang ada pada SLR.
Anda tentunya pernah memotret dengan menggunakan Film, nah ASA yang terdapat pada sebuah film tidak bisa dirubah. Artinya kepekaan film terhadap cahaya sangat bergantung pada jenis ASA itu sendiri. Karenanya terkadang anda harus merencanakan bahkan melihat situasi terlebih dahulu sebelum menggunakan sebuah film. Misalkan anda ingin melakukan pemotretan dipantai, dimana kondisinya terdapat pencahayaan yang penuh dari matahari langsung, maka tentunya anda akan memilih Film dengan ASA yang rendah, ASA 100 misalkan. Mengapa ASA 100, karena ASA seratus merupakan ASA yang kepekaan terhadap cahayanya rendah. Berbeda jika anda kemudian ingin melakukan pemotretan untuk momen pernikahan didalam gedung yang hanya mengandalkan lampu gedung. Anda tentu harus menggunakan film yang memiliki kepekaan cahaya yang tinggi, ASA 400 misalkan. Nah, inilah salah satu sebab yang membuat film dengan ASA 200 lebih laku ketimbang ASA 100 dan ASA 400, ya karena memang fil dengan ASA 200 ini memiliki kepekaan yang sedang, yang artinya dia masih cukup layak digunakan di kondisi penuh cahaya matahari langsung, maupun kondisi kurang cahaya atau didalam gedung (indoor).
Lalu bagaimana dengan ISO?. ISO merupakan fasilitas terbaik yang berhasil diciptakan dalam teknologi fotografi, karena dengan ISO ini, kepekaan film (dalam DSLR adalah sensor) tidak lagi bergantung pada film yang akan digunakan. Hal ini dikarenakan kamera digital khususnya DSLR menyediakan ISO yang siap untuk atur. Anda tidak lagi perlu melihat kedepan momen atau kondisi seperti apa yang akan anda abadikan, karena mudah pengaturannya bahkan anda dapat memotret didalam ruangan kemudian keluar ruangan tanpa harus mengganti Film. Bayangkan anda bisa memiliki kepekaan cahaya mulai dari 80 ? 3200. Itu sama dengan anda memiliki film dengan asa 80, 100, 200, 400 ??3200. Ini yang membuat saya mengatakan teknologi terbaik dalam dunia fotografi.
Yang perlu anda ingat dalam menguasai ISO ini adalah sama seperti ASA, artinya anda harus menempatkan posisi ISO sesuai dengan kondisi yang ada. ISO ini juga merupakan senjata pamungkas ketika anda benar-benar kekurangan cahaya sementara shutter speed dan aperture sudah tidak memungkinkan lagi dieksplore. Namun ada resiko disini. Pada beberapa kamera DSLR menengah kebawah, ISO tinggi (mulai dari 400) besar kemungkinan terjadi Noise, karenanya harus hati-hati menggunakan ISO tinggi.
Baik demikianlah tiga langkah menguasai DSLR mulai dari mengenal shutter speed, aperture hingga ISO. Saya akan lanjutkan dengan langkah lainnya dilain waktu, terimakasih. Selamat mencoba.

Baik, saya akan coba lanjutkan langkah ketiga untuk menguasai DSLR. Setelah menguasai Shutter Speed dan Diafragma DSLR atau aperture, maka selanjutnya anda harus mengetahui ISO dan kemudian menguasainya. Saat ini rata-rata kamera?DSLR memiliki ISO mulai dari 80 ? 3200. Nah,?ISO ini juga yang merupakan kelebihan teknologi?DSLR dibandingkan dengan teknologi SLR sebelumnya, dimana?ISO ini menggantikan ASA yang ada pada SLR.

Anda tentunya pernah memotret dengan menggunakan Film, nah?ASA yang terdapat pada sebuah film tidak bisa dirubah. Artinya kepekaan film terhadap cahaya sangat bergantung pada jenis?ASA itu sendiri. Karenanya terkadang anda harus merencanakan bahkan melihat situasi terlebih dahulu sebelum menggunakan sebuah film. Misalkan anda ingin melakukan pemotretan dipantai, dimana kondisinya terdapat pencahayaan yang penuh dari matahari langsung, maka tentunya anda akan memilih Film dengan ASA yang rendah, ASA 100 misalkan. Mengapa ASA 100, karena ASA seratus merupakan ASA yang kepekaan terhadap cahayanya rendah. Berbeda jika anda kemudian ingin melakukan pemotretan untuk momen pernikahan didalam gedung yang hanya mengandalkan lampu gedung. Anda tentu harus menggunakan film yang memiliki kepekaan cahaya yang tinggi, ASA 400 misalkan. Nah, inilah salah satu sebab yang membuat film dengan ASA 200 lebih laku ketimbang ASA 100 dan ASA 400, ya karena memang fil dengan ASA 200 ini memiliki kepekaan yang sedang, yang artinya dia masih cukup layak digunakan di kondisi penuh cahaya matahari langsung, maupun kondisi kurang cahaya atau didalam gedung (indoor).

Lalu bagaimana dengan ISO?. ISO merupakan fasilitas terbaik yang berhasil diciptakan dalam teknologi fotografi, karena dengan ISO ini, kepekaan film (dalam DSLR adalah sensor) tidak lagi bergantung pada film yang akan digunakan. Hal ini dikarenakan kamera digital khususnya DSLR menyediakan ISO yang siap untuk atur. Anda tidak lagi perlu melihat kedepan momen atau kondisi seperti apa yang akan anda abadikan, karena mudah pengaturannya bahkan anda dapat memotret didalam ruangan kemudian keluar ruangan tanpa harus mengganti Film. Bayangkan anda bisa memiliki kepekaan cahaya mulai dari 80 ? 3200. Itu sama dengan anda memiliki film dengan asa 80, 100, 200, 400 ??3200. Ini yang membuat saya mengatakan teknologi terbaik dalam dunia fotografi.

Yang perlu anda ingat dalam menguasai ISO ini adalah sama seperti ASA, artinya anda harus menempatkan posisi ISO sesuai dengan kondisi yang ada. ISO ini juga merupakan senjata pamungkas ketika anda benar-benar kekurangan cahaya sementara shutter speed dan aperture sudah tidak memungkinkan lagi dieksplore. Namun ada resiko disini. Pada beberapa kamera DSLR menengah kebawah, ISO tinggi (mulai dari 400) besar kemungkinan terjadi Noise, karenanya harus hati-hati menggunakan ISO tinggi.

Baik demikianlah tiga langkah menguasai DSLR mulai dari mengenal shutter speed, aperture hingga ISO. Saya akan lanjutkan dengan langkah lainnya dilain waktu, terimakasih. Selamat mencoba.

4 Response untuk Artikel Ini

  1. roel says:

    Setahu saya kamera analog dan kamera digital sama-sama menggunakan prinsip kecepatan film. Pada kamera digital, medium film digantikan oleh sensor cahaya dan memory card. Tetapi prinsip kecepatan film pada sensor tetap digunakan untuk proses eksposur foto. ASA dan ISO adalah besaran kecepatan standar film untuk sistem eksposur. ASA, yang lebih dulu dikenal luas, adalah singkatan dari American Standards Association. ASA menjadi dasar penetapan sistem kecepatan film yang digunakan oleh International Organization for Standardizations yang dipakai secara luas di dunia (ISO 5800:1987), yang dalam dunia fotografi dikenal sebagai ISO. Sebelum digunakan standard ISO, beberapa negara memiliki standarnya masing-masing. Amerika memakai ASA, Jerman menggunakan DIN (Deutsches Institut für Normung) sementara Jepang menggunakan JIS (Japanese Industrial Standards). Jadi, pada dasarnya pengunaan istilah ASA 800 dan ISO 800 pada kamera digital dan kamera analog adalah sama! Hanya saja, kamera digital tidak menggunakan film, walaupun standar yang digunakan tetaplah kecepatan film.

  2. Pada prinsipnya memang seperti yang dikatakan Mas Roel, ISO dan ASA adalah sama, dan secara teknis tidak ada perbedaan. Hanya yang menjadi bidikan artikel saya diatas adalah mengenai fleksibilitas yang dimiliki oleh kamera digital “familiar dengan ISO” ketimbang film yang dimiliki oleh kamera analog “familiar dengan ASA”. Saya hanya mengadaptasikan artikel saya agar sesuai dengan bahasa yang sering digunakan masyarakat tanpa saja. Kalo saya jelaskan seperti yang dijelaskan Mas Roel, di-wikipedia juga sudah banyak. Jadi saya coba analogikan dengan cara yang lain agar lebih mudah dipahami. Dan menurut saya ISO dan juga ASA merupakan standar akan kepekaan sensor “untuk digital”, film “untuk analog” dalam penentu exposure pada foto. Sementara kecepatan akan ditentukan shutter speed dan ruang tajam oleh diafragma. IMHO…:)

  3. Terimakasih atas tambahan atau koreksinya. Pada prinsipnya memang seperti yang dikatakan Mas Roel, ISO dan ASA adalah sama, dan secara teknis tidak ada perbedaan. Hanya yang menjadi bidikan artikel saya diatas adalah mengenai fleksibilitas yang dimiliki oleh kamera digital “familiar dengan ISO” ketimbang film yang dimiliki oleh kamera analog “familiar dengan ASA”. Saya hanya mengadaptasikan artikel saya agar sesuai dengan bahasa yang sering digunakan masyarakat. Kalo saya jelaskan seperti yang dijelaskan Mas Roel, di-wikipedia juga sudah banyak. Jadi saya coba analogikan dengan cara yang lain agar lebih mudah dipahami. Dan menurut saya ISO dan juga ASA merupakan standar akan kepekaan sensor “untuk digital”, film “untuk analog” dalam penentu exposure pada foto. Sementara kecepatan akan ditentukan shutter speed dan ruang tajam oleh diafragma. IMHO…:)

  4. peterpanz says:

    Terima kasih ilmunya sangat bermanfaat,

    Kira-kira, tipe kamera SLR apa yg terbaik untuk digunakan pada aktivitas capture outdoor?